Membangun GENERASI PENCIPTA dari Ruang Kelas

Indonesia merupakan negara Islam terbesar dengan jumlah penduduk sekitar 262 juta jiwa. Negara besar ini mendapat predikat yang bisa menjadi perhatian kita bersama. Predikat yang diberikan adalah : 1. Negara terboros energi listrik di Asia; 2. Negara terboros pangan di dunia; 3. Negara dengan kasus kejahatan seksual terhadap anak di internet terbesar; 4. Negara paling konsumtif di dunia; 5. Negara dengan kecepatan akses internet paling rendah di asia tenggara dan dunia; 6. Negara berteknologi IT paling rawan bobol; 7. Negara pengguna situs jejaring sosial terbesar di dunia; 8. Negara dengan perkembangan sains dan teknologi paling lambat di dunia; dan 9. Negara dengan rangking mutu pendidikan paling rendah di dunia
Penulis akan menyoroti perihal julukan Negara paling konsumtif di di dunia. Sejak tahun 1970-an hingga hari ini, Indonesia sudah dikenal sebagai negara paling konsumtif di dunia. Bahkan pada saat krisis ekonomi global melanda dunia di tahun 1998 dan 2008, Indonesia seolah tidak terpengaruh. Nilai belanja masyarakatnya meningkat cukup signifikan. Tidak saja di dalam negeri, namun juga di luar negeri.
Di era 2000an ini, kehidupan konsumtif masyarakat Indonesia semakin menjadi-jadi. Tidak heran jika Negara Tercinta kita ini menjadi daya tarik dan sasaran bombardir barang dan produk dari berbagai dunia. Karena sudah dapat dipastikan produk apapun yang masuk Indonesia akan laris bak kacang goreng, mulai dari produk berkualitas paling rendah hingga paling tinggi sekali pun. Dari yang paling sederhana seperti jarum tangan sampai yang canggih seperti smartphone, semua dijual di Indonesia dari negara luar.
Dari begitu banyak produk yang dipasarkan di Indonesia, survei yang dilakukan GfK Asia – sebuah media cetak – menemukan bahwa gadget merupakan produk yang paling banyak dibeli masyarakat Indonesia saat ini. Berdasarkan survei yang mereka lakukan terhadap penjualan Smartphone di wilayah Asia Tenggara tahun 2013 saja, Indonesia merupakan menduduki peringkat pertama pembeli Smartphone terbanyak dibandingkan negara lain, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Kamboja, dan Filipina.      Apa akibatnya jika menjadi negara paling konsumtif, tapi kurang produktif ? Seperti pepatah “lebih besar pasak daripada tiang”. Banyak sekali akibatnya jika hutang semakin bertambah, sampai bulan Juli 2017 hutang negara Indonesia mencapai 4.500 triliun. Semakin banyak hutang kekuatan ekonomi sangat rentan dan lemah. Bahkan jika negara gagal bayar hutang, akan terjadi kebangkrutan. Contoh negara yang bangkrut akibat hutang adalah Yunani. Akibatnya negara tersebut banyak pengangguran, kerusuhan dimana-mana, dan menurunnya daya beli masyarakat. Negara yang berhutang banyak akan mudah dikendalikan oleh negara-negara pemberi hutang, seperti Jepang, Prancis, Jerman, Korea Selatan, dan China. Mungkin bila Indonesia gagal bayar hutang, setiap pulau di jual ke negara asing tersebut untuk melunasi hutangnya.

Untuk mengubah dari negara paling konsumtif menjadi negara produktif tidaklah mudah, tetapi tidak mustahil, pasti bisa. Butuh kesadaran, kerjasama, pengorbanan, perjuangan, persatuan dan daya cipta.  Daya cipta dilahirkan oleh pencipta-pencipta yang diajarkan dari SD, SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi. Supaya banyak lahir pencipta-pencipta atau maker atau creator ini, maka sekolah harus mengajarkan bagaimana mencipta. Bagaimana mencipta sandal jepit untuk mushola dan masjid yang empuk, tahan air,  mencipta tas dan tempat pensil, mencipta desain batik, mencipta film edukasi yang menarik dan mendidik, mencipta perkakas untuk memudahkan pekerjaan, mencipta alat tulis kebutuhan sekolah, mencipta peralatan audio untuk sound sistem, mencipta alat ransportasi, mencipta alat komunikasi, dan mencipta apa saja yang berguna dan dibutuhkan masyarakat.

Pencipta berasal dari kata dasar cipta. Cipta berarti kemampuan pikiran untuk mengadakan sesuatu yang baru, angan-angan yang kreatif. Dan menurut  Kamus Besar Bahasa Indonesia pencipta berarti  yang membuat (mengadakan, menciptakan) sesuatu yang baru (belum pernah ada, luar biasa, lain dari yang lain).  Pencipta atau mencipta merupakan urutan tertinggi dari taksonomi Bloom terbaru. Taksonomi Bloom menjelaskan tentang urutan-urutan tujuan pendidikan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Benyamin Bloom.

Sejarah taksonomi bloom bermula ketika awal tahun 1950-an, dalam Konferensi Asosiasi Psikolog Amerika, Bloom dan kawan-kawan mengemukakan bahwa dari evaluasi hasil belajar yang banyak disusun di sekolah, ternyata persentase terbanyak butir soal yang diajukan hanya meminta siswa untuk mengutarakan hapalan mereka. Seperti Siapakah nama ayah nabi Muhammad saw. Kapan terjadinya perang Badar ? Dimana terjadinya perjanjian Linggarjati ? Kapan terjadinya perang Diponegoro ? Apa kepanjangan dari MPR ? Berapa jumlah rakaat dalam shalat wajib ? Konferensi tersebut merupakan lanjutan dari konferensi yang dilakukan pada tahun 1948. Menurut Bloom, hapalan sebenarnya merupakan tingkat terendah dalam kemampuan berpikir (thinking behaviors).

Bila dilihat taksonomi Bloom terbaru yang lengkap, ada beberapa urutan sebagai berikut :

Tingkat yang paling rendah dalam taksonomi Bloom adalah mengingat atau menghafal, lalu diikuti memahami, mengaplikasikan, lalu di naik tingkat berpikirnya menjadi menganalisis, naik lagi usaha berfikirnya menjadi mengevaluasi dan berfikir yang paling tinggi atau paling pusing adalah berkreasi/mencipta/membuat.

Mencipta dilakukan oleh orang yang sudah menganalisis atau mengevaluasi. Mencipta ini harus diajarkan diruang kelas, karena beberapa tahun kemudian anak-anak kita akan besar. Mereka akan menjadi pemimpin, pejabat, kepala bagian, direktur, bawahan, atasan, jendral, menteri, lurah, camat, walikota, gubernur bahkan presiden.  Ketika menjadi bawahan mereka akan berfikir tidak rutin, pekerjaan rutin yang boros energi, mengevaluasi pekerjaan yang terlalu lama menghabiskan waktu, tidak memberikan nilai tidak dilakukan. Pekerjaan yang tidak ada manfaatnya ditinggalkan. Waktu dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan atau target.

Ketika menjadi atasan mereka tahu ada yang boros, tidak efisien, tidak sesuai dengan perkembangan jaman, tidak efektif, tidak aman, tidak ramah lingkungan, tidak produktif, tidak kompetitif, sudah ketinggalan jaman, sudah usang.

Pada tingkat TK atau SD kelas rendah kegiatan mencipta bisa diajarkan seperti pelajaran prakarya, kerajinan tangan atau SBK. Tetapi pengajaran mencipta SD kelas tinggi sampai SMA, bukan sekedar mengajarkan prakarya atau kerajinan tangan. Ia perlu ilmu untuk mendukungnya, seperti sains, teknik, rekayasa, seni, budaya dan matematika.

Sehingga akan banyak pencipta dari sekolah, seperti pembuat/penulis buku, pencipta metode baca tulis huruf latin yang baru, pencipta metode baca tulis huruf hijiyah yang baru, pencipta bidang apa saja yang bisa membuat bangsa ini lebih kuat, mandiri, percaya diri, dan di segani oleh bangsa lain.

Penulis sudah mencoba mengajarkan kegiatan pembelajaran mencipta untuk SD kelas 4 dan SMP kelas 7 dan 8.  Di kelas 4 SD, diberikan problem atau masalah yang sering terjadi disekitar kita atau di sekolah yaitu sampah daun-daunan yang gugur. Daun-daunan tersebut selalu rontok dan berserakan di bawah pohon, sehingga terlihat banyak sampah dan membutuhkan orang dan waktu untuk membersihkannya. Untuk membersihkan sampah daun-daunan yang gugur dari semua pohon di sekolah Al-Jannah di butuhkan 5 orang untuk menyapunya dan menghabiskan waktu 1,5 jam. Lalu diberikan tugas ke siswa kelas 4 untuk mengatasi masalah tersebut. Setiap kelas di bagi 5 kelompok untuk mencari solusi bagaimana membuat alat untuk menampung daun yang gugur supaya tidak berserakan di bawah pohon. Setiap kelompok di bagi tugas, ada yang menjadi ketua, bagian yang menggambar alat, bagian yang mencatat dan mengumpulkan data,  bagian yang membuat prototype alat. Kemudian semua siswa di bimbing mengumpulkan data, seperti lebar dan panjang daun yang gugur, diameter batang pohon, lebar naungan, tinggi pohon. Kemudian siswa dibimbing membuat prototype sebuah pohon dan rantingnya dari kertas bekas dan lem. Setelah itu siswa membuat rancangan sendiri alat penampung daun rontok berdasarkan ide kelompoknya sendiri. Syarat setiap kelompok adalah membuat alat penampung daun yang berbeda dari kelompok lain, tidak boleh ada yang sama. Setelah 2 minggu model alat penampung daunnya jadi, lalu diuji dengan potongan kertas yang dijatuhkan di atas model alat penampung daun dan dihitung berapa persen alat tersebut bisa menampung daun yang gugur. Potongan kertas diumpamakan sebagai daun yang gugur. Kemudian setiap kelompok mempresentasikan hasil buatannya didepan kelas dan diberikan kesempatan tanya jawab untuk memberi saran, kritikan dan perbaikan rancangan alat yang sudah dibuat.

Di kelas 7 dan 8, penulis memberikan tugas untuk setiap kelompok membuat sebuah benda yang baru dan berguna. Beberapa kelompok memberikan idenya dan harus di periksa idenya di internet apakah benda tersebut sudah ada atau belum. Tetapi ada juga beberapa kelompok yang sudah punya ide belum tahu langkah-langkah untuk mewujudkan idenya. Kelompok yang sudah mempunyai ide ini akan membuat alat seperti, tongsis multifungsi, gelas minum bertermometer, pulpen yang tidak jatuh. Beberapa kelompok belum mempunyai ide sehingga tidak membuat karya yang ditugaskan.

Kelompok yang suka berfikir, kerja keras, kerjasama dan kreatif sudah membuat benda baru, seperti SIPENGTIN (gabungan spidol, penghapus dan tinta isi ulang). Alat tersebut untuk menyatukan spidol whiteboard, penghapus papan tulis dan sekaligus tinta refill dalam satu alat, sehingga tidak perlu repot mencari kesana kemari jika spidol, penghapus atau tinta tidak ada.  Alat sederhana yang juga sudah diciptakan adalah Alat Pembersih Mulut, alat ini perpaduan dari sikat gigi, dental floss dan pembersih lidah. Ada juga ciptaan berupa CasPow atau casing powder, casing HP atau casing  smartphone dibaliknya ada tempat bedak. Casing ini khusus wanita yang ingin selalu tampil cantik. Ada lagi pembersih pel yang batangnya terbuat dari pipa plastic dan berisi cairan pembersih lantai. Ada alat Respirator Clean, masker untuk pengendara motor pengendara yang menghasilkan oksigen. Sehingga pengendara tetap sehat.  Ada juga karya berupa Penghapus Papan Tulis Spidol Permanen. Karena sering guru atau murid menulis di whiteboard dengan spidol permanen.

Alat Respirator Clean Untuk Pengendara Motor

ARC1

Alat Penghapus Tulisan Spidol Permanen Yang Sudah Jadi

APT

Mengajarkan mencipta bisa diterapkan di kelas, meskipun banyak memakan waktu, ada ciptaan yang selesai dalam 1 minggu ada juga yang selesai dalam 3 bulan. Mengajarkan mencipta merupakan mengajarkan berfikir tingkat tinggi, dan membutuhkan proses berfikir di bawahnya seperti mengingat/menghafal, memahami, mengaplikasikan, menganalis, mengevaluasi. Mencipta atau berkreasi akan membentuk karakter siswa seperti tekun, teliti, sabar, percaya diri, berfikir problem solving. Karakter ini akan melekat bila terus diajarkan untuk semua pelajaran. Siswa yang dari sekolah Al-Jannah mempunyai otak yang berbeda dengan siswa lain, karena diajarkan dan dilatih untuk menemukan dan memecahkan masalah, presentasi di depan umum, membuat atau mencipta berdasarkan sains, teknologi, rekayasa, matematika, seni dan budaya.

 

 

 

Sumber Referensi

 

  1. https://www.kompasiana.com/mulyady1688/10-peringkat-indonesia-di-dunia_54f934b0a333112c048b4a1a, diambil 8 November 2017
  2. Kamus Besar Bahasa Indoensia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
  3. http://canufa26.blogspot.co.id/2015/11/taksonomi-bloom-setelah-direvisi.html, diambil 8 November 2017

 

 

 

 

oleh : Tri Mulat